RSS Feed

DALIL-DALIL SYARIAH MENGENAI VALIDITAS

Posted on

PANDANGAN IMAM AL –GHAZALI
PADA DALIL-DALIL SYARIAH MENGENAI VALIDITAS JALAN PARA SUFI DALAM MEMPEROLEH MAKRIFAT DARIPADA MELALUI PEMBELAJARAN ATAU CARA YANG BIASA

Siapapun yang megalami penyingkapan walau hanya sedikit melalui jalan ilham dan tertanam di dalam hatinya dari sumber yang yang tidak dikenalinya, maka dia telah menjadi orang ahli makrifat (‘arif) dengan jalan yang benar. Dan, barang siapa yang tidak mempesepsinya sama sekali secara langsung keadaan seperti itu, seyogianya ia meyakininya. Karena itu mencapai makrifat amatlah jarang terjadi. Dalam hal ini pernyataan-pernyataan syariah, pengalaman-pengalaman dan penuturan-penuturan mereka yang telah mengalami turut membenarkannya.
Di antara pernyataan-pernyataan Ilahi itu dalam al-Qur’an Allah swt berfirman, “dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada merka jalan-jalan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami (QS Al- Ankabut 69). setiap hikmah yang muncul dihati sebagai hasil ibadah secara teratur dan continue jelaslah bukan hasil dari pembelajaran, tapi muncul dari ilham dan penyingkapan ilahi. Rasululah saw, bersabda, “Barang siapa yang beramal dengan ilmu yang ia keahui, Allah akan mewariskan kepadanya sebagai ilmu yang belum dia ketahui,, dan memberinya keberhasilan dalam apa yang dia kerjakan sehingga membutanya layak memperoleh surga. Tetapi, barang siapa yang tidak beramal dengan ilmu yang ia ketahui, dia akan tersesat dengan apa yang ia ketahui dan tidak dapat keberhasilan dari apa yang dia kerjakan sehingga pada akhirnya membuat layak untuk masuk neraka”. “ Allah juga berfirman, “barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (yakni dai segala sesuatu yang membingungkan dan meragukan) dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QA. A-Thalaq 2-3). Yakni dia mengajari mereka ilmu tanpa melalui pembelajaran konvensional dan memberi mereka pemahaman yang terlepas dari pengalaman biasa.
Al-Qur’an menegaskan, ketaqwaan kepada Allah adalah kunci hidayah dan penyingkapan Ilahi dan seseorang menerima pengetahuan seperti itu tanpa pembelajaran Allah swt berfirman . Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.(QS, Yunus 6)
Abu Yazid al-Bustami dan beberapa tokoh lainya berkata, “Ulama itu bukanlah yang menghapal dari kitab-kitab, yang apabila lupa akan apa yang dihapalnya, dia akan menjadi bodoh kembali. Sesugguhnya, seseorang ang benar-benar ulama adalah yang mengambil ilmu dari tuhannya setiap saat dia memerluknnya tanpa menghapal dan dan tanpa belajar. Itulah yang disebut ilmu rabani. Pada hakikatnya, semua ilmu itu adalah dari ssi Allah juga, tetapi beberapa darinya diperoleh melalui sarana pengajaran sehingga ia tidak disebut ilmu dari sisi Alah (ilmu ladunni). Adapun ilmu ladunni adala pengetauan yang terpancar dalam ubuk hati secara khusus tanpa sebab sekunder yag bisa dikenali.
Adapun penglihatan kontemplatif yan aktua, termasuk kategori pegalaman dan yang sejenisnya itu melalui penghitungan kami (yakni sangat banyak). Hal seperti itu dialami oleh para sahabat, tabi’in, dan para tokoh setelah mereka. Banyak sekai kisah berkaitan dengan firasat para ulama, serta pengetahuan mereka tentang kepercayaan dan pemikiran orang-orang, bahkan kisah-kisah perjumpaan mereka denga Khidir a.s tentang suara-suara ghaib ynag mereka dengar, dan peristiwa-peristiwa ajaib yang berhubungan dengan mereka. Walaupun kisah-kisah seperti itu tak berguna bagi orang-orang yang memang sejak semula tak meyakini berlangsungnya hal-hal ajaib spertiitu hingga mereka menyaksikan dengan matanya sndiri. Barangsiapa tidk mempercayai pokok suatu persoalan, pasti tidak mempercayai detailnya. Namun, bukti tegas yang tak terbantah dann tak mungkin diingkari oleh siapa pun adalah dua hal yaitu
Pertama, keanehan pengalaman visioner yang asli bisa menyingkap hal yang ghaib. Jika itu berlangsung pada saat tidur, tak mustahil dapat berlangsung pada keadaan terjaga (tidak tdur). Sebab, saat terjaga sama dari saat tidur kecuali dalam hal tenangnya pancaindra dan berhenti bekerjanya objek-objek indrawi. Bahkan betapa seringnya seseorang dalam keadaan terjaga, tetapi tenggelam dalam pikirannya , tak mendengar , dan tak melihat apapun di hadapannya, karena sedang disibukkan oleh urusan dirinya sendiri.
Kedua, adanya pemberitahuan dari Rasulullah Sa,w, tentang hal-hal gaib dan persoalan-persolan yang akan terjadi dimasa depan dari al-Qur’an. Jika tersigkapnya hal-hal gaib seperti itu dapat terjadi pada Rasulullah saw. Sudah tentu tidak mustahil pula terjadinya pada orang-orang selain beliau.. sebab nabi adalah sebah terma bagi seseorang yang disingkapkan baginya tentang pelbagai hakikat tertentu dan yang tugasnya adalah untuk menyehjahterakan manusia.
Kenyataan ini menjelaskan realitas spiritual yang telah dijelaskan dan terma yang mengagumkan yang menyaakan bahwa hati berada antara ranah pengalaman (empiris)dan ramah alam malakut. Sehubungan dengan itu sesorang dari kalanan ahli ma’rifa berkata “ aku bertanya kepada seseorang yang dikenal dari kalangan abdal (wali)tentang pengalaman keyakinan, sambil menoleeh ke sebelah kiri, dia berkata , apa pendapamu, semoa Allah merahmati kamu?dan kemudian ia menunduk dan berkata lagi, apa pendapatmu tentang Allah merahmatimu?dan setelah itu ia menjawab dengan jawaban yang paling aneh. Maka kutanyakan tentang sebab ia menoleh ke sebelah kiri dan akanan. Jawabannya, aku belum mengetahui jawaban yang tepat atas pertanyaanmu sehingga ku tanyakan pada malaikat penjaga yag berada disamping kiriku, tetapi dia tidak tahulalu, kutanyakan kepada yang berada sebelah kananku yang lebih mengetahui namun ia juga tidak tahu. Maka ku tanyakan pada hatiku dan iapun memberikan jawabannya seperti yang anda dengar. Ternyata ia lebih mengetahui dari pada mereka berdua. “mungkin itulah makna sabda Rasulullah saw ‘jika ada orang pakar hadis dari umatku, maka umar adalah salah satu dari mereka
Dalam sebuah hadis Qudsi Allah swt berkata siapa saja diantara hamba-hambaKu yang ku ketahui hatinya dipenuhi oleh zikir kepadaKu, maka aku akan mengatur hidupnya dan menjadi teman dudukku yang berbincang dengannya, menjadi sahabat yang ercaya dan inti. Dan abu Sulaiman berkata “hati manusia bagaikan bangunan kubah, yang dikelilingi pintu-pintu yang terkunci rapat. Maka, pintu mana pun yang dibuka pasti akan berpangeruh padanya. Pembukaan alah satu pintu hati mengarah pada alam malakut dan alam pertemuan yang lembut. Iiitulah pintu yang terbuka dengan perjuangan spiritual, wara’ dan berpantang dari pelbagai syahwat. Duniawi” karena itu pula Umar pernah menulis kepada para pejabat Negara dn komandan pasukan, “perhatikan baik-baik apa-apa yang kalian dengar dari orang-orang taat kepada Allah karena masalah-masalah kebenaran sesungguhnya ada pada mereka.” Seorang ulama berkata , “ tangan Allah ditangan mulut-mulut orang yang bijak ; takkan mereka mengatakan sesuatu selain kebenaran yang diinginkan Allah” yang lain berkata “ orang bisa mengatakan bahwa Allah menyediakan bagi yang rendah dengan pundak penyingkapan kepada beberapa misteriNya

REFERENSI
Mencari Tuhan Menyelam Ke Dlam Samudra Ma’Rifat, Jhon Renard hal 322 penerbit Mizan 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: